HBKB di Rasuna Said Kembali Digelar, Bantu Perbaiki Kualitas Udara

Jakarta,Suaraaspirasi.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menggelar Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jalan H.R. Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, mulai Minggu (7/6) pukul 05.30-09.00 WIB. Kebijakan ini terbukti membantu mengurangi emisi kendaraan bermotor sekaligus menekan polusi udara di Jakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus mendorong pengurangan penggunaan kendaraan pribadi melalui berbagai kebijakan, termasuk pelaksanaan HBKB.
“HBKB di Rasuna Said dan kawasan Sudirman–Thamrin menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi kendaraan bermotor sekaligus mendorong masyarakat beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya di Jakarta, Senin (8/6).
Dudi menambahkan, kualitas udara Jakarta dalam beberapa waktu terakhir sempat berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Berdasarkan grafik konsentrasi PM2.5 saat pelaksanaan HBKB pada 7 Juni 2026, konsentrasi PM2.5 di Bundaran HI mengalami peningkatan pada dini hari dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00 sebesar 86,15 µg/m³.
Namun setelah itu, konsentrasi menurun secara bertahap selama pelaksanaan HBKB, dari 77,75 µg/m³ pada pukul 04.00 menjadi 75,62 µg/m³ pada pukul 05.00, lalu turun menjadi 68,93 µg/m³ pada pukul 06.00, 62,70 µg/m³ pada pukul 07.00, hingga mencapai sekitar 60,30 µg/m³ pada pukul 09.00–10.00. Penurunan konsentrasi dari puncak hingga periode HBKB mencapai sekitar 27 µg/m³ atau sekitar 31 persen.
Pola serupa juga terlihat pada SPKU Mobile di Rasuna Said. Konsentrasi PM2.5 menurun dari 76,10 µg/m³ pada pukul 03.00 menjadi 71,10 µg/m³ pada pukul 04.00, lalu 61,4 µg/m³ pada pukul 05.00, dan berada di kisaran 54,9–55,5 µg/m³ pada pukul 06.00–09.00.
Kondisi tersebut mengindikasikan selama berlangsungnya HBKB terjadi penurunan konsentrasi PM2.5 dibandingkan kondisi puncak pada dini hari. Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh berkurangnya aktivitas lalu lintas kendaraan di kawasan pusat kota selama kegiatan berlangsung.
Dudi menuturkan, selain menyediakan ruang publik yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat, pelaksanaan HBKB juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya menjaga kualitas udara.
Menurutnya, pengendalian polusi udara butuh keterlibatan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Karena itu, ia mengajak warga mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memanfaatkan transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda dalam aktivitas sehari-hari.
“Perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta,” tuturnya.
Dudi juga mengimbau masyarakat untuk memantau kondisi kualitas udara Jakarta melalui sumber resmi, yakni situs udara.jakarta.go.id dan aplikasi JAKI.
Informasi yang ditampilkan pada platform tersebut berasal dari jaringan 114 stasiun pemantau kualitas udara, baik berupa stasiun referensi maupun sensor pengukur kualitas udara yang telah memenuhi standar ilmiah.
“Penempatan alat pemantau juga dilakukan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga data yang disajikan dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk memantau kondisi udara secara akurat dan terpercaya,” pungkas Dudi.(Red)







