Gelar Potensi Gedongkiwo Usulkan PASTHY Jadi Pusat Penguatan UMKM Lokal

YOGYAKARTA,
Suaraaspirasi.id – Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mendorong setiap wilayah di Kota Yogyakarta untuk terus melestarikan budaya sekaligus mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan mengedepankan kekhasan serta tradisi lokal. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikan Wawan Harmawan saat menghadiri dan membuka secara langsung Gelar Potensi Budaya dan UMKM di RW 08 Kampung Dukuh, Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Minggu (18/10). Mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan UMKM, Wujudkan Jogja Sejahtera”, kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan potensi seni, budaya, serta produk UMKM lokal.
Wawan mengapresiasi keterlibatan berbagai kalangan dalam kegiatan tersebut, mulai dari anak-anak, remaja, hingga pemuda yang turut menampilkan kesenian tradisional. Ia juga menilai penggunaan busana tradisional oleh warga dan panitia menjadi bagian penting dalam menjaga karakter budaya Yogyakarta.
“Budaya seperti ini saya sangat senang. Tadi saya lihat penampil dari adik-adik, kemudian remaja dan pemuda juga sudah nembang. Seragamnya bagus, dan para warga juga menggunakan pakaian tradisional,” ujarnya.
Menurut Wawan, kegiatan berbasis budaya seperti yang diselenggarakan di Gedongkiwo perlu terus dikembangkan dan diperluas jangkauan promosinya. Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya dinikmati masyarakat setempat, tetapi juga mampu menarik perhatian masyarakat dari wilayah lain hingga wisatawan luar daerah.
Ia bahkan mendorong agar potensi budaya dan UMKM Gedongkiwo dapat dikemas dalam sebuah pameran atau gelaran yang lebih besar dengan konsep tradisional atau lawasan. Salah satu lokasi yang diusulkan untuk pengembangan kegiatan tersebut adalah kawasan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), dengan melibatkan Kemantren Mantrijeron sebagai penggagas dan tuan rumah.
“Jadi, desain kegiatan nanti konsepnya adalah lawasan. Panitianya juga menggunakan bergodo, surjan, dan sebagainya. Yang berjualan pun diharapkan mengenakan pakaian tradisional,” ungkapnya.
Menurutnya, seni dan tradisi lokal memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari promosi produk UMKM sekaligus potensi wisata budaya. “Jadi, acara seperti ini memang harus terus dimunculkan supaya Jogja tidak kehilangan jawanya. Budaya seperti ini harus kita kembangkan dan budayakan. Bahkan, kekhasan Jogja seperti ini masih sangat pantas untuk ditampilkan dan dipromosikan,” tegasnya.
Ketua Panitia Gelar Potensi Budaya dan UMKM Kelurahan Gedongkiwo, Agung Supriatmojo mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta sekaligus mengajak warga untuk terus melestarikan budaya khususnya di wilayah Gedongkiwo.
Pihaknya menjelaskan, sebanyak 18 perwakilan UMKM dari masing-masing RW turut berpartisipasi, ditambah tujuh pelaku UMKM lainnya dari wilayah sekitar. Kehadiran para pelaku usaha tersebut menambah semarak kegiatan sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal berbagai produk lokal.
“Selain bazar UMKM, kegiatan ini menampilkan potensi seni dan budaya masyarakat yang menjadi bagian dari identitas Kelurahan Gedongkiwo,” ujarnya.
Salah satu pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut, Tini mengaku, bersyukur karena produk yang dijualnya mendapat sambutan positif dari pengunjung.
“Kami menjual antaranya teh mint dan jamur crispy. Teh mint yang dipasarkan memanfaatkan daun mint dari
kebun kelompok Surya Farm dan Surya Ceria. Keduanya menjadi bagian dari kegiatan usaha dan pemberdayaan yang memanfaatkan potensi lokal. Alhamdulillah, penjualannya lumayan sekali,” jelasnya.
Tini berharap, kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan agar pelaku UMKM semakin berkembang dan usaha yang telah dirintis dari nol dapat bertahan dalam jangka panjang. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan UMKM ini, usaha yang dirintis dari nol bisa semakin langgeng dan berkembang,” imbuhnya.“Selain bazar UMKM, kegiatan ini menampilkan potensi seni dan budaya masyarakat yang menjadi bagian dari identitas Kelurahan Gedongkiwo,” ujarnya.
Salah satu pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut, Tini mengaku, bersyukur karena produk yang dijualnya mendapat sambutan positif dari pengunjung.
“Kami menjual antaranya teh mint dan jamur crispy. Teh mint yang dipasarkan memanfaatkan daun mint dari kebun kelompok Surya Farm dan Surya Ceria. Keduanya menjadi bagian dari kegiatan usaha dan pemberdayaan yang memanfaatkan potensi lokal. Alhamdulillah, penjualannya lumayan sekali,” jelasnya.
Tini berharap, kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan agar pelaku UMKM semakin berkembang dan usaha yang telah dirintis dari nol dapat bertahan dalam jangka panjang. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan UMKM ini, usaha yang dirintis dari nol bisa semakin langgeng dan berkembang,” imbuhnya.(Red)







