Hai, kami hadir dengan lebih segar!

Advetorial

KWT Kenanga, Inspirasi Ketahanan Pangan dari Pekarangan Sempit di Kota Tangerang

KOTA TANGERANG – Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, semangat warga untuk membangun ketahanan pangan keluarga terus tumbuh. Salah satu contohnya hadir dari KWT Kenanga yang berlokasi di Jalan Flamboyan I RT 02/RW 07, Kelurahan Bugel, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dipimpin Hanifah Bowo ini berhasil membuktikan bahwa lahan sempit tetap bisa produktif dan bernilai ekonomi. Berdiri sejak akhir 2018 dengan luas lahan sekitar 200 meter persegi, KWT Kenanga kini dikenal sebagai salah satu kelompok tani perkotaan yang aktif dan sukses di Kota Tangerang.

Tak hanya menanam aneka sayuran dan tanaman pangan, KWT Kenanga juga sukses mengembangkan hasil panen jahe menjadi produk olahan bernilai jual. Keberhasilan tersebut menjadikan KWT Kenanga turut dipercaya mendukung program ketahanan pangan bersama Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang.

Ketua KWT Kenanga, Hanifah Bowo mengatakan, keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti bercocok tanam. Menurutnya, pola tanam yang tepat justru mampu menghadirkan beragam kebutuhan pangan keluarga dalam satu area kecil.

“Kita melihat situasi, kalau lahannya sempit bagaimana caranya supaya lahan ini tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi tanamannya tidak terlalu banyak, tapi bermacam-macam. Ada terong, kembang kol, daun bawang, bayam, ubi sampai singkong. Meskipun terbatas, tetap bisa dimanfaatkan,” ujarnya saat ditemui di KWT Kenanga Kota Tangerang. Rabu, (13/5/26).

Hanifah menjelaskan, keberadaan kebun warga bukan sekadar penghijauan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya pangan sehat dan ramah lingkungan. Seluruh tanaman yang dibudidayakan diupayakan bebas dari bahan kimia berbahaya seperti pestisida.

“Kita memperkenalkan dulu ke lingkungan bahwa tanaman di kebun ini sehat karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya. Kita juga mengelola dengan pupuk yang aman untuk jangka panjang,” katanya.

Selain menjadi sumber pangan sehat, pemanfaatan pekarangan rumah juga dinilai mampu membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga. Warga dapat langsung memanen kebutuhan dapur sehari-hari seperti cabai, terong maupun sayuran lainnya dari halaman rumah sendiri.

“Harapan saya setiap warga punya tanaman yang bisa dinikmati sendiri. Jadi bukan hanya menanam bunga, tapi juga tanaman yang bermanfaat untuk kebutuhan keluarga. Kalau di depan rumah ada cabai atau terong, kan tinggal ambil. Itu bisa mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga,” ungkapnya.

Hanifah juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang yang selama ini memberikan dukungan, pembinaan, dan motivasi kepada kelompok wanita tani di Kota Tangerang, termasuk KWT Kenanga.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang yang terus mendukung kegiatan kami, mulai dari pembinaan hingga program ketahanan pangan. Dukungan ini sangat membantu kelompok kami untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Hanifah berharap gerakan urban farming semakin meluas di lingkungan permukiman. Menurutnya, keberhasilan program ketahanan pangan berbasis pekarangan sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Kita hanya mencoba memberi ruang, wawasan, dan saling mendukung. Selebihnya kembali lagi ke masyarakatnya, apakah mau memanfaatkan peluang ini atau tidak,” pungkasnya. (Adv)

Rekomendasi untuk Dibaca

Suaraaspirasi.id