Hai, kami hadir dengan lebih segar! ✨

Advetorial

Bupati Dewi Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau di PVMBG Pasauran, Imbau Warga Tetap Waspada

SERANG – Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, meninjau langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Pos Pengamatan Gunung Api milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Dewi mengimbau masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi potensi erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah dan instansi berwenang.

“Kami mengimbau masyarakat dalam menghadapi potensi erupsi Gunung Anak Krakatau agar jangan panik dan selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang ditimbulkan dari aktivitas GAK,” ujar Dewi, Minggu (6/9).

Ia menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan PVMBG, aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, potensi erupsi masih perlu diwaspadai sehingga masyarakat diminta tidak lengah dan terus mengikuti arahan petugas.

Pemerintah Kabupaten Pandeglang, lanjut Dewi, juga telah menyiapkan langkah mitigasi risiko bencana dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) tingkat kabupaten dan kecamatan.

“Kita terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan mitigasi risiko bencana bersama BPBD dan dinas terkait yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat Kabupaten dan Kecamatan,” ungkapnya.

Terkait potensi paparan abu vulkanik, Dewi meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Apabila harus beraktivitas di luar, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat apabila mengalami keluhan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

“Pemerintah tentu akan selalu sigap dan terus membangun komunikasi aktif dengan masyarakat. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, masyarakat harus mengetahui jalur evakuasi, lokasi pengungsian, hingga kesiapan logistik yang telah disediakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa berdasarkan data peralatan pemantauan, aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan penurunan. Kendati demikian, potensi terjadinya erupsi masih ada sehingga pengamatan terus dilakukan selama 24 jam.

Menurut Rita, arah sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi kondisi angin yang dapat berubah setiap hari. Berdasarkan hasil pemantauan pada 6 September, sebaran abu bergerak ke arah barat, yakni menuju kawasan Selat Sunda dan Samudra Indonesia.

“Arah abu ini akan sangat tergantung kepada arah angin, jadi bisa berubah-ubah setiap hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, PVMBG terus memantau kondisi angin dan pergerakan abu vulkanik melalui sejumlah stasiun pengamatan. Pemantauan tersebut juga dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta memanfaatkan data dari stasiun pengamatan di Australia.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik, khususnya terhadap aktivitas penerbangan.

Rita juga menegaskan bahwa aktivitas gunung api tidak selalu dapat diamati secara kasat mata. Penentuan perubahan status gunung api tidak hanya didasarkan pada besar kecilnya erupsi, tetapi juga mempertimbangkan potensi ancaman dan risiko yang dapat ditimbulkan terhadap masyarakat.

Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan terdampak diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta menjadikan informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah sebagai rujukan utama dalam mengambil langkah antisipasi. (ADV)

Rekomendasi untuk Dibaca

Suaraaspirasi.id